Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Agustus 2010

Pilih -pilih INBOX

Ada yang pernah pilih - pilih untuk memberikan koment pada kontak???
Jadi pas buka INBOX gak semua postingan kontak di buka/ gak mampir di postingan tsb. Kira - kira sebabnya kenapa ya?? Apa karena gak akrab trus gak mampir?? apa karena dah tahu kalo postingan si A pasti panjang neeh, males baca , jadinya gak mampir?? Apa karena dah tahu kalo ini postingan si B, pasti nyampah neeh jadinya males baca juga???

Kalo aku seeh selama hari itu aku onlen, sebisaku untuk mampir or sedikit koment di postingan kontak, kalopun gak koment ya gpp seeh, aku dah berterimaksih dah baca hasil "nyampah"ku hari ini. Yang aku heran adalah kontak - kontak yang  sedang onlen tapi gak mampir ke postinganku , tapi mampir n koment ke postingan lain yang notabene juga kontakku. Otomatis aku tahu kan kalo dia sebenarnya onlen dan sudi untuk ngasih koment, tapi gak sudi untuk buka postinganku di INBOXnya. Jadinya aku yang bertanya - tanya, ada apa dgn tulisanku, terlalu membosankankah, terlalu biasakah, terlalu nyampahkah?? Lewat kesempatan ini aku minta maaf pada para mom, bunda, jeng sekalian, bahwa postinganku adalah postingan ibu biasa yang gak bisa nulis bagus, yang bisanya hanya menceritakan apa yang terjadi di keluarga ajah...

Or kalo aku mo bijaksana dikit, mgkn kontak itu sibuk dengan kerjaan or keluarganya sehingga pas buka INBOX milih mampir ke kontak yang akrab dengan dia ajah. ....*piss ahhh buat sma kontakku...

Bukankah kita menambah kontak artinya menambah teman juga sehingga bisa saling mampir utk ber say hello, sharing dll. So knp harus milih - milih buka  INBOX???

*postingan uneg - uneg bin heran , mhn maaf bila ada yang tak berkenan....
jadi inget ttg postingan yang dari mba Vina yang KOK GAK KOMENT SEEH????

Kamis, 12 Agustus 2010

Pengalaman dgn W*h*n*

Setelah pengalaman w*h*n*nya mba Esti, ternyata aku juga dipusingkan dengan pengiriman w*h*n* ini.

Ceritanya minggu lalu aku beli baby doll di Yoyga (dikirim tgl 5 Agt) dan mukena untuk hadiah lebaran bu guru Fakhry n Filia di Surabaya (dikirim tgl 7 Agt), semuanya dikirim via w*h*n*.  Biasanya 2-3 hari dengan expedisi lain udah nyampe rumah, perkiraanku senin tgl 9 Agustus sdh ada di rumah, aku tanya ART di rumah blm ada juga,sampai selasa 10 Agt blm ada juga, aku heran dan merasa ada keanehan. Apalagi dari Surabaya biasanya cuma sehari udah bisa nyampe ke rumah (maklum mak yang satu ini khatam belanja OS hehehhehe )

Tahun lalu aku juga pernah punya pengalaman gak menyenangkan dengan w*h*n* ini. Ceritanya aku tahun lalu reseller untuk kaos anak flanel dari daerah Sidoarjo. Supllierku ini suka pake w*h*n* karena bs di pick up di rumah jadi dia gak repot - repot anter paket ke kantor expedisi, akhirnya aku ok - ok aja, Ternyata eh ternyata perjalanan paket  dari w*h*n* surabaya ke jember ini menunggu tonase barang jadi gak tiap hari ada pengiriman barang, mereka bilang jadualnya Senin, Rabu, Jumat,.... waktu itu aku kecewa bangetttttttt, padahal pesenan kaos itu byk yang nunggu di rumahku. Aku coba melacak no telp w*h*n* di Telkom Jember tidak terdaftar, dan aku coba no telp yang tercantum di web w*h*n* juga tidak bisa. Fakta lain , yang mengelola w*h*n* di Jember hanya satu orang waktu itu, jadi dia ya kepala cabang, ya kurir, ya admin...... no telp hp  si mas ini aku dapatkan ketika dia nganter barang ke rumah dan aku wawancara..... Lega dah dapet no telp si mas w*h*n*, setidaknya kan bisa dpt info posisi paket.

Kembali ke cerita w*h*n*ku kali ini, aku masih simpan no telp mas w*h*n* ini, aku cb hubungi dia no hpnya dah gak aktif..duh gemessssssss, pusingggggg, akhirnya saran dari toko OS di Yogya aku disuruh kirim email ke w*h*n* tsb agar cepet responnya. Dengan niat aku kirim imel konfirmasi kemarin pagi.......dan bener sore hari pas hampir maghrib  si mas w*h*n* yang dulu itu muncul,..

Pertama datang aku omeli dengan dgn berbagai pertanyaan, bla..bla..bla...., dianya cengengesan berkelit, huft... katanya temenya dah pernah kesini tapi gak ada orang... aku bilang ya gak mungkin lah, lha wong di rumahku ada 2 ART, anak - anak libur, ada UTi juga, dan mereka gak kemana - mana, dari hari Senin mereka udah ku wanti - wanti mungkin ada paket. Kata si mas..." temen saya yang bohong kali ya bu..".. ih gemees bagettt. Karena dah mo masuk waktu berbuka kemarin si mas aku tanya :
" puasa mas??"
" ya tentu dong bu" lagi - lagi sambil cengengesan
" nih buat membatalkan puasamu hari ini"
sambil aku serahin air minum gelas
''maksih bu" ktnya
aku sebel ya tapi kasihan sama si mas itu..huft   sampe kemarin2 aku dah sebel gak lagi - lagi deh pake w*h*n*...

Sebelum si mas pergi aku tanya no telpnya, eh udah ganti katanya...dan aku diberi 2 nomor gsm  dan 1 no flexi..

w*h*n* oh w*h*n*.. moga ada perbaikan servis ditengah - tengah kompetisi expedisi yang semakin menjanjikan servis cepat dan aman

Jumat, 24 April 2009

Senyuman

Artikel  dari milis tetangga
Sumber: unknown


Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.
 
Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama “Smiling.”
Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah.
 
Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi kerestoran McDonald’s yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong.
 
Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.
Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui suatu “bau badan kotor” yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil!
 
Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali. Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang “tersenyum” kearah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima ‘kehadirannya’ di tempat itu.
 
Ia menyapa “Good day!” sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya ‘tugas’ yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya.
 
Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah “penolong”nya. Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka,dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai didepan counter. Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan “Kopi saja, satu cangkir Nona.” Ternyata dari koin yang
terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan direstoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.
 
Tiba2 saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua ‘tindakan’ saya.
 
Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah. Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap “makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua.”
 
Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah ber-kaca2 dan dia hanya mampu berkata “Terima kasih banyak, nyonya.” Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata “Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan
sesuatu ketelinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian.” Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu.
 
Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata “Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan ‘keteduhan’ bagi diriku dan anak-2ku! ”
 
Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar2 bersyukur dan menyadari,bahwa hanya karena ‘bisikanNYA’ lah kami telah mampu memanfaatkan ‘kesempatan’ untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan. Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin ‘berjabat tangan’ dengan kami.
 
Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap “Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi
kepada kami.”
 
Saya hanya bisa berucap “terimakasih” sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada ‘magnit’ yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu
melambai-2kan tangannya kearah kami. Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 ‘tindakan’ yang tidak pernah terpikir oleh saya.
 
Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa ‘kasih sayang’ Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali! Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan ‘cerita’ ini ditangan saya. Saya menyerahkan ‘paper’ saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia
melihat kepada saya dan berkata, “Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?” dengan senang hati saya mengiyakan.
 
Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah
ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.
 
Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya. “Tersenyumlah dengan ‘HATImu’, dan kau akan mengetahui betapa ‘dahsyat’ dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu.” Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah ‘menggunakan’ diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald’s, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu: “PENERIMAAN TANPA SYARAT.”
 
Jika anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan cerita ini kepada orang2 terdekat anda. Disini ada ‘malaikat’ yang akan menyertai anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita ini akan tergerak hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun)
bagi sesama yang sedang membutuhkan uluran tangannya!
 
Orang bijak mengatakan: Banyak orang yang datang dan pergi dari kehidupanmu, tetapi hanya ’sahabat yang bijak’ yang akan meninggalkan JEJAK di dalam hatimu. Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu. Tetapi untuk berinteraksi dengan orang lain, gunakan HATImu!
Orang yang kehilangan uang, akan kehilangan banyak, orang yang kehilangan teman, akan kehilangan lebih banyak! Tapi orang yang kehilangan keyakinan, akan kehilangan semuanya!
 
Tuhan menjamin akan memberikan kepada setiap hewan makanan bagi mereka, tetapi DIA tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka, hewan itu tetap harus BERIKHTIAR untuk bisa mendapatkannya. Orang-orang muda yang ‘cantik’ adalah hasil kerja alam, tetapi orang-orang tua yang ‘cantik’ adalah hasil karya seni. Belajarlah dari
PENGALAMAN MEREKA, karena engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk bisa mendapatkan semua itu dari pengalaman dirimu sendiri.


Semoga  bermanfaat , terutama buat aku sendiri

Kamis, 23 April 2009

Acara Nujuh Bulanan




Ini acara nujuh bulanan waktu aku hamil si Fakhry (foto-fotoya sedikit, ini aku cm up load 2 foto. Fakhry lahir 17 Mei 2006, jadi ini dilaksanakan bln Maret 2006, tanggalnya aku dah lupa.Dilaksanakan di Asembagus-Situbondo (waktu itu ibuku belum pensiun dari PG. ASSEMBAGOES,sekarang beliau di Situbondo).Dihadiri oleh sodara dan tetangga dekat.

Secara keseluruhan acara nujuh bulanan ini dimaksudkan memohon doa kepada ALLAH agar diberkan keselamatan pada bumil dan calon bayinya.Rangkaian acara dimulai dengan pengajian, trus aku n mas dimandikan, pecah telur,ibu dan ibu mertuaku rebutan kelapa muda yang bergambar wayang,trus aku salin baju sampai 7 kali.Seru......

Selasa, 21 April 2009

Pindah rumah

lama gak upload catatan kecil dan catatan seru di MP.

Sibuk...Lupa...Malas...gak sempat.... Alhasil MP terbengkalai.

Awal kesibukan karena persiapan pindah rumah.Alhamdulilah sebagai pasangan muda kami sdh memiliki rumah sendiri, setelah 4 tahun kontrak rumah,Sejak 2005 awal kami nikah, Februari 2009 dah menempati rumah sendiri. 

Setelah persiapan, maksudnya rumah yang kami beli, di cat ulang, dibetulkan sana-sini, tgl 27 Februari 2009 kami pun masuk rumah.Bismillahirohmannirrahim......

Fakhry dan Filia terlihat amat senang,apalagi di depan rumah kami , ada cukup arena bermain untuk mereka, lapangan bulutangkis,"pelosotan".Wuihhh, sampai gak mau masuk rumah kalo sudah main di depan rumah... 

Aku dan suami amat bahagia, meskipun kami harus lebih ketat mengatur keuangan rumah tangga,krn kami beli rumah itu ngutang ke Bank (ssssttt..sssst))), tapi kami bisa memberikan tempat berteduh untuk anak- anak kami, tempat berkunjung ortu,sodara, dan teman yang nyaman, daripada rumah kontrakan...

Semoga rumah kami menjadi surga untuk kami sekeluarga. Amiiennnnn

Elegant Rose